<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9015799492798225875</id><updated>2011-04-21T19:57:57.503-07:00</updated><category term='Komunikasi Bisnis di PLN'/><title type='text'>My Sweet Dreams</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://adiks2000.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9015799492798225875/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adiks2000.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>adiks2000</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13622939663992083316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9015799492798225875.post-3069213183354816110</id><published>2007-12-22T00:04:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T00:12:49.076-08:00</updated><title type='text'>PERAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM MENDUKUNG KOMUNIKASI BISNIS DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a name="_Toc186015921"&gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana teknologi bisa mendukung perusahaan untuk lebih tanggap terhadap kebutuhan dan keinginan pelanggan (customer driven) ? Bagaimana akhirnya ICT menjadi medium efektif dan luas jangkauan sebagai sarana pemasaran produk dan jasa ? Mengapa sarana E-Business semacam situs internet, mailing list, dan blog akhirnya menjadi bagian terpenting dari marketing online ? Berikut ini uraiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· belanja melalui iklan online tumbuh lebih dari 75% per tahun dalam tiga tahun terakhir, dengan pendapatan perusahaan diperkirakan sebesar 812 miliar Dollar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Meskipun internet saat ini hanya berkontribusi 2,3% terhadap pasar iklan total di China, para pengamat memperkirakan komposisi tersebut akan berubah dalam 10 tahun terakhir dimana pendapatan melalui iklan media online akan menyusul media konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Motorola menyelenggarakan kontes rekaman video online bagi remaja China. Lebih dari 14 juta orang mengeklik dalam waktu kurang tiga bulan, dan terdapat 1,3 juta yang mau memberikan penilaian dari para peserta kontes. Apa hasilnya? Produk ponsel Motorola penjualannya meningkat pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Pendapatan iklan di portal-portal Internet terkemuka di Cina tumbuh 25% pada tahun 2005. Misalnya, di Sohu.com Inc. - portal terbesar ke-3 di Cina, kini sekitar dua pertiga pendapatannya disumbang iklan. Porsi itu naik dua kali lipat dibanding tiga tahun lalu. Untuk memikat iklan lebih banyak, Sohu.com telah menandatangani kesepakatan pemasaran yang terkait dengan ajang Piala Dunia Jerman dan Olimpiade Beijing pada 2008. Pada 27 April lalu, Sohu mengumumkan, sepanjang kuartal pertama pendapatan iklannya tumbuh 35%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Anak perusahaan eBay, Internet Auction Co., menjadi pemain utama di Korsel dengan menyumbangkan 75% pendapatan di seluruh Asia. Perkembangan iklan online lain di Korsel adalah munculnya Gmarket yang notabene pesaing Internet Auction Co. Dengan penerapan penjualan model lelang melalui internet, pemasok t-shirt, televisi, LCD ini terbukti sukses menyedot perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Majalah BusinessWeek Juli 2006 lalu memperkirakan blog bisnis mencapai 25 juta yang meliputi korporat, bisnis menengah, dan perseorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="_Toc186015922"&gt;&lt;strong&gt;II. LATAR BELAKANG&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. ICT dalam Mendukung Komunikasi Bisnis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bisnis merupakan kegiatan yang dilakukan manusia sejak awal peradabannya. Sejalan dengan perkembangan jaman, cara dan sarana yang digunakan untuk berbisnis senantiasa berubah. Dengan perkembangan ICT, kegiatan bisnis mengalami transformasi dari bentuk konvensional (cash money transaction) ke dalam transaksi elektronik. Dari sini muncul istilah E-Business yang memiliki makna luas untuk menunjuk kepada penggunaan teknologi dalam menjalankan fungsi bisnis yang memberikan hasil atau dampak besar kepada kegiatan bisnis keseluruhan&lt;br /&gt;E-Business mencakup semua area perdagangan yang menggunakan transaksi elektronik. E-Business terjadi ketika perusahaan atau individu berkomunikasi dengan para client atau nasabah secara E-Mail, memasarkan dan menjual produk melalui situs internet atau blog, saling bertukar informasi melalui mailing list atau newsgroup, dan sebagainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, kegiatan marketing adalah bagaimana mengarahkan konsumen agar memutuskan untuk membeli barang. Dari sini muncul istilah E-Commerce yang memiliki pengertian lebih sempit dibandingkan E-Business. E-Commerce mengacu kepada penggunaan situs internet untuk melakukukan transaksi bisnis, seperti melakukan penawaran, pembelian produk, dan pembayaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan internet sebagai media pemasaran dan saluran penjualan membawa keuntungan. Internet merupakan media promosi perusahaan dan produk yang paling mudah. Disamping itu, membuat situs di internet lebih murah biayanya dibandingkan dengan membuka outlet retail konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan lebih jauh dari E-Commerce adalah standarisasi format transaksi elektonik ke dalam EDI (Electronic Data Interchange) yang digunakan untuk mengefisienkan pertukaran data transaksi regular yang berulang dalam jumlah besar antara organisasi komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transaksi Elektronik pada dasarnya memiliki fitur-fitur yang sangat khusus, yang sangat berbeda apabila dibandingkan dengan transaksi konvensional. Fitur pelayanan tanpa batas (Borderless Services) memungkinkan para pelaku bisnis dapat memasarkan produknya cukup dengan membuat situs web kapan saja dan tentu pelanggan dari seluruh dunia dapat mengakses dan melakukan transaksi secara online. Transaksi akan diakui sepanjang pembayarannya telah diotorisasi oleh penyedia layanan sistem pembayaran yang ditentukan (pada umumnya dengan kartu kredit), tetapi para pelaku bisnis tidaj perlu harus bertatap muka (anonim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi E-Business mengubah suasana kompetisi menjadi semakin dinamis dan global. Seperti pada perdagangan konvensional, pertemuan antara berbagai pihak dengan beragam kepentingan akan membentuk sebuah pasar tersendiri tempat bertemunya permintaan (demand) dan penawaran (supply). Pasar ini disebut dengan Electronic Business Community dimana para anggotanya memanfaatkan ICT sebagai tempat berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dalam menjalankan kegiatan bisnisnya sehari-hari. Intinya ICT telah menciptakan industri baru dalam komunikasi bisnis. Hal ini dimungkinkan karena ICT dapat mempercepat arus informasi yang merupakan kunci sukes dalam meningkatkan performa bisnis&lt;br /&gt;Pengaruh ICT dalam dunia bisnis tampak nyata dalam E-Business, transaksi bisnis dicatat, diolah, dan dilihat dan pada saat yang hampir bersamaan (real-time), contoh seperti dilakukan para nasabah bank pada saat melakukan transaksi pada ATM (Automated Teller Machine). Dalam industri perbankan, ICT bukan lagi hanya sekedar pendukung, melainkan tumbuh sebagai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;B. Umpan Balik Dalam Persaingan E-Business&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Telah dijelaskan latar belakang bagaimana akhirnya keunggulan yang ditawarkan ICT menciptakan model komunikasi bisnis yang sama sekali baru. Kehadiran berbagai penemuan baru di bidang ICT telah membawa dampak perubahan perilaku para pelaku bisnis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salah satu contoh adalah munculnya blog di internet yang telah melahirkan media online yang interaktif, komunikatif, efektif, murah, dan gratis bagi siapa saja. Seorang pengamat web, Steven Streight (2004) mengatakan bahwa blog membuat orang yang tidak paham bagaimana caranya membuat situs internet mempunyai akses untuk merancang web content guna mengkomunikasikan ide dan produk mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan demikian, pelaku bisnis transaksi elektronik makin marak dan selanjutnya muncul pertanyaan : bagaimana cara memenangkan persaingan di medan bisnis transaksi elektronik ini ?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertanyaan tersebut mendapat respons serius dari seorang konsultan internet marketing, Jeremy Wright. Dalam bukunya Blog Marketing (2005) Wright berpikir mendasar bahwa memiliki sebuah situs internet tanpa mengetahui tujuan memang menarik untuk dilihat tetapi tidak akan memberikan kontribusi apapun. Situs Internet bukan sekadar media penyiaran, melainkan sarana komunikasi antar pelaku bisnis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam hal ini, aspek perilaku konsumen dan marketing mix bisnis konvensional tetap berlaku dalam E-Business. Situs Internet memberi kesempatan kepada perusahaan agar semaksimal mungkin menciptakan Product Knowledge yang baik kepada pembaca. Blogger yang baik tidak sekadar berharap menerima komentar yang masuk, melaikan harus mampu merespons umpan balik, baik yang positif maupun negatif kepada para pembacanya. Umpan balik menurut Wright, adalah peluang terbaik yang harus dimanfaatkan untuk memenangi persaingan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;C. Pola Komunikasi Dalam E-Business&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam komunikasi bisnis, perangkat ICT seperti situs internet, mailing list, news group, atau blog tidak boleh mengedepankan selera personal dan harus dikelola secara resmi. Perusahaan harus membentuk tim khusus untuk melakukan hal ini. Sekalipun resmi tujuannya murni untuk promosi, namun isinya harus beda dari penayangan iklan konvensional semaca televisi, radio, brosur, dan model media cetak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau media tradisional tadi kita sebut sebagai media informasi yang pasif, maka situs internet bersifat interaktif. Berbagai pembicaraan disampaikan lintas batas dan zona waktu hampir pada saat yang bersamaan. Pesan-pesan muncul campur aduk sehingga kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang dusta. Dalam situasi turbulence seperti itu, peluang untuk berbagai kesempatan menjalin relasi bisnis terbuka lebar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perangkat E-Business dituntut untuk menyajikan Corporate Identity, perkembangan yang terjadi dalam setiap fungsi bisnis perusahaan, perkembangan dunia industri, proses produksi, kerja tim karyawan, style, setiap event yang terjadi termasuk kegiatan sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keaktifan berinteraksi adalah kata kunci dalam E-Business. Membalas surat dalam waktu 5 jam adalah baik, 1 jam lebih baik. Ibarat the signpost (papan tanda), pengelola situs harus mampu memberikan informasi yang bermanfaat kepada para pembaca, dan menunjukkan jalan ke informasi lain yang lebih bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dunia cyber tak kenal batas normal dan moralitas. Karena itulah, penting kiranya seorang marketing bersikap sabar dan tidak boleh terjebak pada kemarahan dengan setiap omongan yang tidak dikehendaki. Asumsinya, dengan penjelasan yang baik, secara otomatis yang negatif akan terjawab dengan sendirinya. Harus disadari pula pengalaman E-Business yang selama ini sukses masih berada di perusahaan besar (korporat). Bagi perusahaan kecil tentu urusannya lain. Apalagi jika perusahaan tersebut bergerak dalam bidang jasa dalami skala menengah ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alhasil, marketing online menjanjikan sebuah peluang, namun untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan membutuhkan pemikiran dan eksperimen tersendiri yang menuntut keringat dan pemikiran jenius.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a name="_Toc186015923"&gt;&lt;strong&gt;III. PERMASALAHAN&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di atas telah kita sajikan perkembangan marketing online di China dan Korsel, perkembangan ICT dalam mendukung E-Business hingga mampu membentuk model komunikasi bisnis baru. Pertanyaannya, apakah para pelaku E-Business, baik yang memakai website, maillinglist, maupun blog bisa menerapkan secara praktis di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berbicara tentang Indonesia, situasi yang kontras terlihat di sini :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;· Pengguna internet baru 1,7 % dari total jumlah penduduk. Dari jumlah tersebut tidak sampai 0,5 % yang yakin bahwa belanja online lewat internet itu aman, selebihnya malah tidak paham bagaimana cara belanja lewat internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Situs-situs pemda banyak yang mati dan tidak diupdate sampai sekian lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Banyak website perusahaan milik orang Indonesia yang memasang alamat surat masuk. Bahkan di dalamnya memuat pesan seperti, “Silakan kirim surat Anda ke alamat ini. Surat yang masuk akan segera kami jawab.” Dan tunggulah sampai usia Anda habis, dijamin tetap saja tidak akan ada respons !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="_Toc186015924"&gt;&lt;strong&gt;IV. PEMBAHASAN&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Jumlah Pengguna Internet&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Maraknya E-Business di China, Korea dan Amerika Serikat (AS) tidak lepas dari jumlah pengguna internet. Hasil survei Computer Industry Almanac Inc. menunjukkan urutan pengguna internet sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- AS : pengguna 197,8 juta, pangsa pasar 18,3%, pada urutan pertama&lt;br /&gt;- China : pengguna 119,5 juta, pangsa pasar 11,1%, pada urutan kedua&lt;br /&gt;- India : pengguna 50,6 juta, pangsa pasar 4,8 %, pada urutan ketiga&lt;br /&gt;- Korsel : pengguna 33,9 juta, pangsa pasar 3,1%, pada urutan tujuh&lt;br /&gt;- Urutan 3, 4, 5, 6 ditempati Jepang, Jerman, Inggris, dan India&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Indonesia? dimana pengguna internet baru 1,7 % dari jumlah penduduk ? itupun sudah dikurangi dengan orang yang tidak yakin bahwa bertransaksi online itu aman. Jadi masuk akal pertarungan E-Business di Indonesia tidak seglamour di China, di AS apalagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Pemanfaatan Internet Sebagai Alat Komunikasi Bisnis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari sisi pemanfaatan waktu, pengguna internet dibagi menjadi tiga kategori, yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aktif : 4-8 jam atau lebih dalam sehari dalam seminggu&lt;br /&gt;setengah aktif : minimal 1 jam dalam sehari selama satu minggu&lt;br /&gt;pasif : hanya sesekali membuka situs atau sekadar membuka E-Mail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pengguna aktif ini sangat penting kita bicarakan karena mereka menggunakan internet bukan sekadar sebagai alat bantu (sekunder), melainkan sebagai sarana primer dalam keseharian. Mulai dari mencari informasi dan data, berkomunikasi, hingga mencari nafkah, termasuk mereka-mereka yang jam kerjanya habis untuk berselancar di jagat maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para pengguna internet aktif di Indonesia ini, kita patut ajukan satu pertanyaan fundamental : sudahkan mereka mendapatkan keuntungan finansial dari kegiatan bisnis melalui internet ? Kalau anda termasuk pengguna aktif, sudah mampukah anda menggantungkan kehidupan finansial melalui internet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saluran Cyber bagi kebanyakan pengguna di Indonesia, sebagaimana juga terjadi di negara dunia ketiga lainnya, masih sebatas untuk sarana hiburan, atau komunikasi yang tidak produktif. Kita belum bicara mengenai internet sebagai alat komunikasi bisnis, apalagi untuk bertukar ilmu pengetahuan. Kelemahan kita adalah memberlakukan internet sebagai media pasif. Sementara masyarakat di negeri maju, terutama pelaku bisnis, gencar berinteraksi mempublikasikan tujuan bisnis mereka. Bagi mereka, E-Business adalah mengupas manfaat besar yang mereka petik dengan dukungan ICT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Problem Pola Pikir, Komunikasi, dan Bahasa&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, internet belum menjadi media interaktif bukan hanya karena soal minimnya jumlah pengguna dan belum optimalnya pemanfaatan internet sebagai alat komunikasi bisnis, akan tetapi problem pola pikir, komunikasi, dan bahasa juga memegang peranan besar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- mentalitas kebanyakan orang dunia ketiga yang gagap berkomunikasi melalui jaringan teknologi mutakhir. Ini bisa kita buktikan belum banyaknya orang yang berhasil bisnisnya di jagat maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Secara umum masyarakat Indonesia masih mempercayai bahwa uang hanya bisa kita dapatkan dari pekerjaan konvensional di dunia nyata. Mereka belum percaya kepada suatu bentuk bisnis dimana barang yang ditawarkan tidak tampak, atau para pelaku bisnis tidak bertatap muka secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Minimnya kemampuan bahasa asing, terutama menulis bahasa Inggris, kita akan kesulitan menawarkan produk atau jasa yang kita miliki. Dari sini, dunia bahasa yang selama ini tidak pernah kita pikirkan sebagai syarat berekonomi tiba-tiba menjadi syarat mutlak, bahkan lebih penting ketimbang ijazsah S-1 atau S-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sejalan dengan evolusi peradaban suatu bangsa di mana semakin maju sebuah bangsa, semakin penting kebutuhan bahasa yang bermutu. Dan, bahasa tulisan adalah puncak dari peradaban manusia dibanding bahasa lisan. Nyatanya komunikasi tekstual berbasis online belum membumi bagi masyarakat bertradisikan lisan seperti Indonesia dan tentu berpengaruh bagi pangsa pasar E-Business. Kita tahu, lawan bicara dalam dunia maya adalah orang-orang yang hidup dalam kultur kehidupan beradab seperti Jerman, Inggris, Jepang, Amerika Serikat, Swiss, Italia yang pastinya punya cita rasa komunikasi yang lebih baik dari penduduk negara dunia ketiga. Bahkan di Indonesia sebuah E-Mail belum dianggap sebagai surat resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Situs Internet Hanya Pajangan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bahkan website yang jelas-jelas mencantumkan ikon layanan publik milik pemerintah pusat maupun milik pemerintah daerah tak pernah menjadi jembatan penghubung antara pejabat dengan rakyat. Kebanyakan orang kita menganggap website bukan media komunikasi, melainkan sekadar pajangan dengan desain jelek yang tidak enak dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;V. &lt;/strong&gt;&lt;a name="_Toc186015925"&gt;&lt;strong&gt;KESIMPULAN&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Peran ICT dan semua perangkat pendukungnya dalam dunia komunikasi bisnis di Indonesia masih dihadapkan banyak kendala. Dimana salah satunya adalah komunikasi online berbasis teks masih belum membumi dalam kegiatan sehari-hari orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Di Indonesia, internet belum terlalu popular digunakan menjadi media interaktif bisnis, bukan hanya karena minimnya penetrasi infrastruktur internet ke lapisan masyarakat, tetapi juga masih banyak pelaku usaha yang belum memahami bagaimana mengkomunikasikan bisnis melalui jaringan teknologi mutakhir ini. Hampir semua calon konsumen di Indonesia masih memiliki keragu-raguaan (skeptis) untuk melakukan transaksi di jaringan toko maya ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="_Toc186015926"&gt;&lt;strong&gt;VI. SARAN&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus dihadapkan pada berbagai kendala, sesuungguhnya potensi pasar E-Business masih besar di Indonesia. Jumlah penduduk yang besar menjadi salah satu potensi pasar utama. Adapun kendala di atas pada hakikatnya tidak dimaksudkan untuk mengabaikan potensi pasar marketing-online, melainkan sebagai tantangan para pelaku E-Business untuk menggali potensi pasar secara mandiri dan kreatif sehingga mampu mengubah kendala yang ada menjadi peluang bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="_Toc186015927"&gt;&lt;strong&gt;REFERENSI&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Mingay, Simon. 2005. “Effective Communication between IT Leaders and Stakeholders must &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;  be Structured and Contextual”.&lt;br /&gt;· Neuman. Cheryl McKenna. 2002. “Establishing Effective Communication with Large Science &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;  Classes”.&lt;br /&gt;· Perry, Roberta. 2003. “Barriers to Effective Communication”.&lt;br /&gt;· Soller, Amy; Alan Lesgold, Frank Lintin dan Brad Goodman. 1999. “What Makes Peer &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;  Interaction Effective? Modelling Effective Communication in an Intelligent CSCL”.&lt;br /&gt;· Ruben, Brend D and Lea P. Stewart, Communication and Human Behavior, 4th Edition, Allyn &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;  and Bacon&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9015799492798225875-3069213183354816110?l=adiks2000.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adiks2000.blogspot.com/feeds/3069213183354816110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9015799492798225875&amp;postID=3069213183354816110' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9015799492798225875/posts/default/3069213183354816110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9015799492798225875/posts/default/3069213183354816110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adiks2000.blogspot.com/2007/12/peran-teknologi-komunikasi-dan.html' title='PERAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM MENDUKUNG KOMUNIKASI BISNIS DI INDONESIA'/><author><name>adiks2000</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13622939663992083316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9015799492798225875.post-1896906117429539386</id><published>2007-12-21T23:29:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T00:18:13.910-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Bisnis di PLN'/><title type='text'>MEMBANGUN KOMUNIKASI BISNIS YANG EFEKTIF DI PLN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a name="_Toc186031041"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang Indonesia, apa yang paling diingat tentang PLN ? Listrik itu sudah pasti. Listrik yang telah dinikmati oleh sebagian besar warga Indonesia, dan sebagian besar lainnya masih berharap dengan sangat agar rumah mereka bisa dialiri listrik. Listrik sangat erat dengan kehidupan keseharian kita. Bayangkan, mulai dari memasak, mencuci, menyetrika, belajar, makan, dan semuanya. Bahkan tidak akan terbayang oleh kita bagaimana masyarakat Indonesia tanpa kehadiran listrik. Mungkinkan Indonesia akan hadir dalam wujud seperti sekarang ? Mungkin kita akan beli lilin setiap hari agar anak-anak bisa belajar malam hari, kegerahan di Jakarta dan Surabaya yang panas karena tidak ada AC. Pokoknya Indonesia yang sama sekali lain dari yang kita kenal sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, apakah kesadaran akan hal itu telah tertanam dalam benak masyarakat ? Sadarkah mereka akan pentingnya ketersediaan pasokan listrik ? Paham bahwa menghasilkan energi listrik bukan lewat ‘sim salabim’ yang bisa langsung jadi ? Kita kenal listrik hanya dari lampu yang menyala. Saat listrik padam, tudingan langsung tertuju kepada PLN. Padahal panjang sekali sekali proses pengolahan untuk menghasilkan listrik yang kita kenal sekarang. Juga bukan perkara mudah untuk menjaga seluruh infrastruktur kelistrikan di negeri ini agar bisa beroperasi secara kontinyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyediaan tenaga listrik adalah suatu services public utility. Proses produksi suatu komoditas pasti membutuhkan biaya. Bila komoditi itu digunakan oleh konsumen, ada harga yang harus dibayar. Berlakulah konsep supply and demand. Itu prinsip ekonomi. Tetapi apakah masyarakat kita berpikir serupa ? Contoh kasus :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Beberapa orang melakukan aksi menjahit mulut, sebagai bentuk protes akibat rumah mereka dilewati SUTET.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sebagian warga Mande, Kabupaten Cianjur menolak membayar tagihan listrik karena belum tuntasnya ganti rugi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;tanah mereka yang dilewati SUTET&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Di daerah selatan Jawa Barat (Tasikmalaya, Garut, Ciamis), sebagian masyarakat menolak ganti rugi tanah mereka &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;yang akan dibangun SUTET, dan menuntut ganti rugi yang lebih besar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Petugas PLN di daerah Leuwiliang, Bogor harus mundur teratur ketika melihat penunggak tagihan listrik marah-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;marah dan mengancam dengan golok saat meteran listriknya akan dicabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sekelompok warga di daerah Tambun, Bekasi yang diketahui melakukan levering mengepung petugas PLN yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;akan melakukan penertiban sambungan listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Penolakan adanya biaya administrasi bank dalam pembayaran tagihan listrik online. Demonstrasi dilakukan dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;merusak pintu Kantor PLN APJ Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Untuk daerah di beberapa pelosok Sumatera dan Kalimantan, terutama di area yang rawan keterbatasan pasokan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;listrik, warga mengamuk dan merusak kantor PLN setempat saat pemadaman terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pelaku bisnis, tentu saja PLN berinteraksi dengan banyak pihak saat menjalankan kegiatan bisnisnya. Dari aspek Customer Relationship Management transaksi terbesar (97%) yang dikelola PLN adalah pembayaran tagihan listrik. Ambil contoh fenomena perilaku pelanggan yang terjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Langgam pelanggan dalam membayar tagihan listrik pada umumnya menumpuk pada tanggal 17-20 setiap bulan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tampak bahwa motivasi untuk membayar tagihan listrik masih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Petani-petani di Karawang lebih memprioritaskan kebutuhan konsumtif setelah hasil panen ketimbang membayar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;tagihan listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Para penunggak listrik terbesar PLN adalah kalangan Bisnis dan instansi pemerintah. Hal itu bisa terjadi, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;kecenderungannya karena terbentur oleh masalah anggaran. Lebih dari 50% tunggakan PLN disebabkan masalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sebagian masyarakat yang mempercayakan pembayaran tagihan listriknya kepada kolektor dengan alasan loket &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;pembayaran PLN jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Kumuh dan berjubel seolah sudah menjadi ciri khas loket pembayaran PLN. Akibatnya banyak pelanggan enggan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;untuk antri membayar tagihan listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Persepsi bahwa listrik merupakan kebutuhan pokok yang harus gratis, sehingga pelanggan merasa tidak perlu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;membayar tagihan listrik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah perilaku pelanggan terkait dengan persepsi mereka terhadap PLN. Lantas apa yang sebenarnya terjadi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="_Toc186031042"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;II. LATAR BELAKANG&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita membahas lebih jauh, mungkin kita perlu mengenal lebih jauh mind mapping bisnis PLN sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Secara natural, bisnis penyediaan tenaga listrik bisa dibagi ke dalam 3 (tiga) core utama, yaitu : pembangkitan, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;penyaluran, dan distribusi. Dari fitur bisnisnya, pembangkitan dan penyaluran lebih banyak berhubungan dengan hal &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;yang bersifat teknis yaitu aspek material management, sedangkan distribusi selain bertanggung jawab terhadap hal &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;teknis, dituntut pula untuk mengelola aspek Customer Relationship Management dan Financial Management.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Bisnis ketenagalistrikan pada hakikatnya bersifat Natural Monopoly. Harga yang dipatok, sunk cost yang besar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;dalam produksi dan operasi, target melistriki daerah pelosok dengan tingkat demand yang rendah, menyebabkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;bisnis kelistrikan memiliki halangan yang besar bagi potential entrance .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sesuai dengan UU. Ketenagalistrikan No. 15/1985, PLN diberi wewenang penuh untuk mengelola bisnis &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;ketenagalistrikan di Indonesia, baik di sektor hulu maupun hilir. Dengan struktur pasar yang bersifat monopoli, PLN &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;merupakan satu-satunya pemain sebagai public services utillity dalam bisnis kelistrikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· PLN tidak berhak untuk menetapkan tarif sendiri. Harga jual energi listrik sepenuhnya merupakan wewenang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pemerintah, dimana sampai saat ini masih mengacu pada Tarif Dasar Listrik (TDL) tahun 2003 yang ditetapkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;melalui KEPPRES No. 89 Tahun 2002 tanggal 31 Desember 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· PT. PLN (Persero) sebagai induk perusahaan yang bersifat korporasi, terdiri dari berbagai SBU (Strategic Business &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Unit), antara lain P3B, Distribusi, Wilayah, Proyek Induk, Unit Bisnis Penunjang, dan Anak Perusahaan. Salah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;satunya adalah PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten (PLN DJBB) yang bertugas mengelola pasokan dan distribusi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;tenaga listrik di Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten, yaitu tempat penulis bekerja saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="_Toc186031043"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;III. PERMASALAHAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalankan kegiatan bisnisnya, PLN sebagai BUMN strategis dihadapkan pada berbagai tantangan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Keterbatasan komposisi dan kompetensi SDM : tenaga ada, kapasitas tidak ada. Rasio pegawai produktif tidak sebanding dengan pertumbuhan pelanggan, besarnya pendapatan yang dikelola, dan dinamika perkembangan jaman, adanya gap yang besar pada pegawai level manajemen dasar/menengah, dan kurangnya pegawai pada level pelaksana dan teknisi terutama di frontliner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Harga jual tenaga listrik lebih rendah dibanding Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· BPP tenaga listrik sangat tergantung pada harga minyak dunia. Sebagaimana diketahui bahwa komposisi BPP tenaga listrik mayoritas dimanfaatkan untuk biaya BBM pembangkit PLN. Selain itu, gejolak situasi moneter seperti tingkat inflasi dan kurs valuta asing juga berperan penting dalam mempengaruhi BPP tenaga listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Subsidi Pemerintah terhadap PLN secara gradual dikurangi, karena kenaikan harga minyak membebani APBN. Sedangkan kenaikan TDL (Tarip Dasar Listrik) rawan politisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Terbatasnya investasi asing untuk membangun infrastruktur kelistrikan, dan loan yang ada tidak bisa memenuhi semua kebutuhan. Otomatis di masa depan PLN harus mengandalkan pada sumber pendanaan sendiri yaitu dari pembayaran tagihan listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Infrastruktur kelistrikan yang sudah tua dan jumlahnya terbatas tidak sebanding dengan pertumbuhan konsumsi energi listrik. Contoh masih rendahnya rasio distribusi (misal ratio kVA trafo distribusi terhadap kVA trafo GI) yang menyebabkan timbulnya bottle-neck yang berpengaruh pada tingkat keandalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Belum ada pembangunan infrastruktur kelistrikan baru. Tidak adanya Gardu Induk di kawasan selatan Jawa Barat dan Banten mengakibatkan tegangan suplai ke pelanggan sangat drop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Nilai tunggakan rekening listrik yang cukup besar, dimana setiap tahunnya berkisar antara Rp 600 miliar-Rp 700 miliar. Untuk PLN DJBB tercatat tunggakan sebesar Rp 46 Miliar untuk posisi Triwulan II tahun 2007. Skala yang terhitung besar bila dibandingkan dengan tunggakan PLN se-Indonesia yang setiap tahunnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Keterbatasan PLN untuk berinvenstasi menyebabkan beberapa komunitas bisnis berniat membangun kawasan eksklusif penyediaan tenaga listrik mandiri, sehingga dalam jangka pendek mereka meminta turun daya. Contoh : Cikarang Listrindo Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Mulai krisis moneter 1997 sampai sekarang, PLN masih harus menjalankan kebijakan anggaran yang ketat. Jika kebijakan ini tidak dijalankan, PLN akan sulit menjalankan fungsi sebagai satu-satunya lembaga yang memproduksi dan mendistribusikan listrik di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Berbagai instabilitas di masyarakat seperti situasi politik semacam pilkada atau konsumen yang makin kritis dengan dukungan lembaga semacam LSM, YLKI, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="_Toc186031044"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;IV. PEMBAHASAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Ada gap persepsi dalam Interaksi antara PLN dengan para stakeholder. Sungguh kontras dengan semboyan “Listrik Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik”. Konsumsi energi listrik secara masif tidak diimbangi dengan persepsi yang komprehensif mengenai aspek bisnis kelistrikan dari para pelaku bisnis. Bahkan di level akar rumput, masyarakat cenderung menunjukkan karakter garang, keras, dan tidak bersahabat saat timbul persoalan dengan PLN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pentingnya komunikasi bisnis. Dalam konteks bisnis, komunikasi dilakukan untuk mendorong pemahaman yang sama guna mendorong dan merangsang para pelaku bisnis untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang baru (Business Communication, Bovee and Thill, 1997). Hal ini dilakukan atas kemitraan sederajat dengan dilandasi saling pengertian antar pelaku bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti PLN harus lebih dalam mengelola aspek komunikasi bisnis. Sesuatu hal relatif baru dan selama ini tidak menjadi concern khusus. Pokoknya kalau ingin listrik harus ikuti aturan PLN, kalau tidak mau ya silahkan bikin listrik sendiri atau diputus. Paradigma yang berorientasi pada aspek Customer Relationship Management belum begitu mengakar dalam BUMN yang sekian lama memonopoli bisnis ketenagalistrikan di negeri ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Komunikasi bisnis memiliki ruang lingkup yang lebih kompleks dibandingkan komunikasi individu. Di dalam suatu perusahaan, orang-orang yang terlibat di dalamnya akan melakukan komunikasi yang dinamakan komunikasi internal. Sedangkan bila perusahaan ingin melakukan komunikasi dengan pihak luar perusahaan, maka dinamakan komunikasi eksternal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari fakta di atas terlihat bahwa PLN tidak bisa sendirian mengatasi tantangan yang dihadapi. Ada interaksi antara PLN dengan pihak luar dalam menjalankan bisnis ketenagalistrikan di negeri ini. Agar interaksi ini berjalan sesuai dengan corporate strategy, mutlak membutuhkan komunikasi bisnis yang efektif terhadap stakeholder yang terlibat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tapi bagaimana caranya ? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menurut pengalaman penulis, ada dua aspek penting yang harus dimunculkan saat membangun komunikasi bisnis yang efektif. Dua aspek ini erat hubungannya dengan budaya perusahaan yang akan diuraikan lebih rinci berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="_Toc186028305"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;A. Membangun Corporate Identity&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Setiap perusahaan pasti mempunyai budaya perusahaan (Corporate Culture). Internalisasi budaya perusahaan bisa tertanam dalam perilaku organisasi. Tetapi apakah itu cukup untuk mengembangkan komunikasi bisnis kepada pihak eksternal ? Membangun Corporate Identity adalah langkah pertama dalam membangun komunikasi bisnis (Schein, 1985). Tujuannya adalah menuangkan budaya perusahaan ke dalam brand image agar dikenal secara luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Corporate Identity adalah memvisualisasikan budaya perusahaan menjadi artifak-artifak yang tampak secara fisik, seperti kop surat, stempel, fax, logo, slide presentasi, signature, situs internet dsb. Artifak-artifak ini merupakan sarana utama dalam komunikasi bisnis, terutama terhadap pihak eksternal. Corporate Identity merupakan hal yang sangat esensial dalam komunikasi bisnis, karena merupakan perwujudan dari budaya dan perilaku organisasi yang telah dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corporate Identity mempunyai dimensi yang luas, mencakup Product Dimension (meliputi pengenalan produk, diferensiasi produk, dan keunggulan kompetitif), Management Dimension (meliputi corporate strategy, corporate goals, dan pengambilan keputusan), dan Relational Dimension (meliputi pemerintah, komunitas, pelanggan, dan seluruh pihak yang berinteraksi dalam bisnis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan logo McDonald berupa Huruf ‘M‘ besar berwarna kuning dengan bentuk khas yang dikenal di seantero dunia. Ingat huruf ‘M’ besar ingat McD. Begitu hebat dan sukses McDonald dalam membangun Corporate Identity-nya. Begitu juga perusahaan seperti Pertamina rela merogoh kocek milyaran rupiah hanya untuk mengubah logo. Bukan main pengaruh logo dalam membangun Corporate Identity ini !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pengalaman penulis saat bernegosiasi dengan mitra kerja pelaksana program Payment Point Online Bank (PPOB) baik dari kalangan perbankan atau pihak provider. Ada satu hal yang hal yang menarik. Format presentasi dari pihak perbankan selalu sama apapun produk yang ditawarkan dan siapapun perwakilan dari pihak Bank yang datang. Kalangan perbankan sudah mempunyai Corporate Identity yang dikelola dengan baik. Ini diwujudkan dalam format presentasi yang baku (logo, judul, subjudul, font, ukuran font, letak garis, letak tulisan, dsb). Logo BCA bukanlah sekedar untaian aksara tanpa makna. Huruf tebal dicetak miring dengan dasar warna biru itu adalah visualisasi yang khas budaya BCA. Lihat juga Bank Mandiri yang berlogo pita. Apa artinya ? Pita adalah simbol persatuan dan ikatan kebersamaan. Bank Mandiri merupakan hasil merger dari beberapa Bank Pemerintah yang sangat berbeda budaya dan perilakunya, sekarang disatukan dalam ikatan budaya yang sama, persis seperti pita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama nampak di perusahaan provider telekomunikasi. Mengapa perusahaan semacam Telkom, Indosat, atau Lintasarta selalu menggunakan warna dominan biru dalam setiap artifak mereka ? menurut personalitas mereka, biru adalah warna teknologi. Benar-benar pas dengan Brand yang dibangun dalam Core Business mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang berbeda ditemui penulis di PLN saat melakukan sosialisasi internal ke unit pelaksana. Format presentasi bisa sangat berbeda tergantung dari selera, sudut pandang fungsional organisasi, atau opini pribadi. Akhirnya setiap orang berlomba-lomba membuat presentasi dengan topik yang sebetulnya identik. Selain tidak efisien, bisa menimbulkan turbulence, dan pemahaman yang ditawarkan ke audience tidak mencapai sasaran yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="_Toc186028306"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;B. Kemampuan Menyimak Dalam Lingkungan Bisnis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Salah satu hal lagi yang harus dipahami dalam hal merancang keberhasilan dalam berkomunikasi bisnis adalah, menyimak (listening). Menyimak adalah salah satu keahlian berkomunikasi yang paling sering digunakan dalam interaksi manusia. Kemampuan dalam berinteraksi dan bekerja dengan orang lain merupakan bagian penting dari keberhasilan kita dalam berbisnis. Dengan belajar menyimak dengan baik akan sangat membantu meningkatkan hubungan kita dengan orang lain. Karena faktor utama dalam komunikasi adalah kemampuan melihat gagasan dan sikap yang diungkapkan dari sudut pandang orang lain. Dan hal ini akan memberikan umpan balik guna mengetahui bahwa menyimak merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam menghilangkan masalah komunikasi yang timbul dalam bisnis, seperti : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;- memecahkan konflik&lt;br /&gt;- menanggulangi perlawanan&lt;br /&gt;- mengadakan negosiasi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menyimak merupakan alat yang berguna untuk evaluasi proses komunikasi bisnis, menanggapi umpan balik tersebut tanpa rasa marah, dan menyimak umpan balik tersebut, dan memberikan perhatian kepada seluruh sumber umpan balik tersebut untuk diambil manfaatnya dan menjadikan evaluasi bagi si komunikator. Dan akhirnya hal terakhir tersebut di atas bisa dijadikan salah satu tolak ukur keberhasilan dalam komunikasi bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun struktur pasar sektor ketenagalistrikan di Indonesia pada hakekatnya bersifat monopoli, interaksi antara PLN dengan para pelaku bisnis menghasilkan beraneka ragam bisnis turunan yang bersifat non-monopoli. Ada suatu masa dimana era Proyek Listrik Desa masih menjadi primadona di PLN – tiang dan kabel dipasang sendiri, cater dilakukan sendiri, pemakaian KWH dihitung sendiri, dan bahkan petugas PLN pun datang ke rumah-rumah untuk menagih pembayaran tagihan listrik dari pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era itu sudah berlalu. PLN tidak bisa lagi terpaku pada sifat Inward Looking – melihat segala sesuatu hanya ke dalam. PLN harus melihat keluar alias Outward Looking karena banyak opportunity yang muncul di situ. Dalam program PPOB misalnya, kerjasama dengan pihak perbankan membuat Point of Sales pembayaran tagihan listrik menjadi bisnis terbuka. Selain menguntungkan PLN, ada captive market yang timbul. Ini salah satu contoh. Masih banyak peluang lain yang diharapkan bisa memunculkan sinergi positif antara PLN dengan para pelaku bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh kasus adalah bagaimana PLN mengarahkan pelanggan besar agar mau membayar tagihan listrik melalui fasilitas online perbankan yang disediakan. Pada umumnya Bank mengarahkan pelanggan agar mau menggunakan autodebet dengan alasan keamanan. Sementara pelanggan lebih memilih membayar menggunakan Giro dengan alasan keterbatasan cash flow. Setelah berbagai negosiasi antara berbagai pihak, muncul berbagai skema penyelesaian pelunasan semacam dana talangan (Lending Working Capital) , kombinasi antara Giro dengan Transfer / BI-RTGS, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lagi adalah bagaimana usaha keras PLN bisa melakukan persuasi kepada pihak bank agar mau membuka seluruh outletnya untuk melayani pembayaran tagihan listrik pada hari libur, tentunya melalui skema yang disepakati bersama. Atau kisah proses negosiasi berbulan-bulan lamanya hingga collection fee untuk bill payment pelanggan besar bisa turun dari 3 per mil menjadi 50.000 per lembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh diatas sama sekali bukan hasil insider trading, perdagangan gelap untuk memuluskan kepentingan sementara pihak. Tapi murni hasil interaksi semua pihak yang berkepentingan. Inilah bukti bila komunikasi bisnis berperan efektif, akan dihasilkan solusi yang diterima semua pihak. Bayangkan bila saat itu semuanya ingin menang sendiri, tidak ada pihak yang diuntungkan dan tentu hasilnya akan lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="_Toc186031045"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;V. KESIMPULAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;· Saat ini PLN merasa telah berusaha keras untuk mewujudkan kinerja yang baik, akan tetapi tetap muncul citra negatif PLN di mata sebagian masyarakat. Ini menjadi tanggung jawab PLN untuk mewujudkan dan mengelola Corporate Identity yang jelas dan positif. Tujuannya adalah mengurangi gap pemahaman antara PLN dengan pihak yang berinteraksi dan membangun komunikasi bisnis yang bersifat sustained (berkelanjutan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sifat Outward Looking yang sedang tumbuh di PLN harus diimbangi dengan kesadaran dan kemampuan untuk menyimak dalam bisnis guna mencari alternatif pemecahan untuk mengatasi persoalan yang timbul. Prinsipnya karena PLN sudah mau share (berbagi), maka harus dibarengi juga dengan kemampuan untuk menangkap peluang sekaligus juga kerelaaan untuk memahami kesulitan-kesulitan yang dialami para pelaku bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="_Toc186031046"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;VI. SARAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Seiring pembangunan komunikasi bisnis yang efektif, PLN harus mengubah orientasi bisnisnya. Tadinya, orientasi bisnis PLN adalah product driven yang hanya berperan sebagai penjual listrik, kini lebih harus mengedepankan keinginan dan kebutuhan pelanggan (customer driven), dan kemudian mengarahkan pelanggan agar mengikuti pasar yang telah dirancang (market driven).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tepat sasaran, komunikasi bisnis harus dibungkus ke dalam bentuk yang lebih menyentuh kebutuhan stakeholder, semacam Corporate Social Responsibility atau Community Development.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="_Toc186031047"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;REFERENSI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;· Bovee, Courtland L. dan John V. Thill. “Business Communication Today. 6th Edition”, Prentice Hall Inc., 1997.&lt;br /&gt;· Fill, Chris. “Marketing Communication. 2nd Edition”, Prentice Hall Inc, 1996.&lt;br /&gt;· Smith, P.R., Chris Berry and Alan Pulford, “Strategic Marketing Communications. Revised Edition”, Kogan Paged &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Limited 1999&lt;br /&gt;· Rogers, Everett M, and F. Floyd Shoemaker. “Communication of Innovations”. New York : The Free Press, 1971&lt;br /&gt;· Johnson, Daniel; Peter Sutton dan Neil Harris. 2001. “Extreme Programming Requires Extremely Effective&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Communication: Teaching Effective Communication Skills to Students in an IT Degree.”&lt;br /&gt;· Mingay, Simon. 2005. “Effective Communication between IT Leaders and Stakeholders must be Structured and &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Contextual”.&lt;br /&gt;· Neuman. Cheryl McKenna. 2002. “Establishing Effective Communication with Large Science Classes”.&lt;br /&gt;· Perry, Roberta. 2003. “Barriers to Effective Communication”.&lt;br /&gt;· Soller, Amy; Alan Lesgold, Frank Lintin dan Brad Goodman. 1999. “What Makes Peer Interaction Effective? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Modelling Effective Communication in an Intelligent CSCL”.&lt;br /&gt;· Ruben, Brend D and Lea P. Stewart, Communication and Human Behavior, 4th Edition, Allyn and Bacon&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9015799492798225875-1896906117429539386?l=adiks2000.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adiks2000.blogspot.com/feeds/1896906117429539386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9015799492798225875&amp;postID=1896906117429539386' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9015799492798225875/posts/default/1896906117429539386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9015799492798225875/posts/default/1896906117429539386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adiks2000.blogspot.com/2007/12/membangun-komunikasi-bisnis-yang.html' title='MEMBANGUN KOMUNIKASI BISNIS YANG EFEKTIF DI PLN'/><author><name>adiks2000</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13622939663992083316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9015799492798225875.post-6847364895540829342</id><published>2007-11-10T23:06:00.000-08:00</published><updated>2007-12-21T23:00:50.889-08:00</updated><title type='text'>My Journey</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hello..please I introduce myself. My Name is Muhammad Nurul Hadi. Sometimes my friends call me Adi. I was born on Pebruary 18th 1976, in Malang, a small town in East Java, Indonesia. But I spent my lifetime in Kediri as long as fifteen years before moved to Surabaya for nine years. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;I was graduated from ITS Surabaya at 2000, and since 2003 I have been living in Bandung for joining PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten. Now I will pass my Magister Management Program in Pajajaran University, Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9015799492798225875-6847364895540829342?l=adiks2000.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adiks2000.blogspot.com/feeds/6847364895540829342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9015799492798225875&amp;postID=6847364895540829342' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9015799492798225875/posts/default/6847364895540829342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9015799492798225875/posts/default/6847364895540829342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adiks2000.blogspot.com/2007/11/my-journey.html' title='My Journey'/><author><name>adiks2000</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13622939663992083316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
